Senin, 17 Februari 2014

Syair Kematian


Sadarlah, wahai orang yang tertipu!
Mengapa kamu masih riang gembira
terlena dengan angan-angan?
Padahal ajal di depan matamu
Bukankah kamu mengetahui
bahwa ambisi manusia ialah lautan tak bertepi.
Bahteranya adalah dunia
Maka berhati-hatilah jangan sampai karam
Yakinlah! Bahwa kematian pasti menjemputmu
bersama segala kepahitannya
Ingatlah detik-detik itu, ketika memberi wasiat
sedangkan anak-anak yang akan yatim
dan ibunya yang akan kehilangan suami tercinta
menangis pilu berlinang air mata
Ia tenggelam dalam lautan kesedihan
seraya memukul wajahnya
Disaksikan para lelaki, padahal sebelumnya
ia adalah mutiara yang tersimpan rapi
Kemudian setelah itu,
dibawalah kain kafan kepadamu
Akhirnya! Diiringi isak tangis dan derai air mata
Jasadmu dikebumikan!

Selasa, 10 Desember 2013

"Melihat masalah dari segala sisi mampu membuatmu tersenyum" -Anonymous

Senin, 02 Desember 2013

Lagi, Kehilangan Teman Sejati

Peranah merasa kesepian? Merasa hanya seorang diri walau di keramaian? Merasa makhluk paling malang sedunia? Mungkin anda bisa menjawabnya sendiri dalam benak. Menurut saya, mungkin 94% manusia normal pernah berfikir bahwa ia sedang merasa sendiri. Lalu, apa yang harus dilakukan ketika ini terjadi? Haruskah dengan menghalalkan segala cara agar kembali normal? Tentu, itu hanya bersifat semu, tak akan mengobati sepenuhnya, bahkan tidak sama sekali.

Ada banyak faktor yang menyebabkan ini terjadi, salah satunya, kita sering lupa akan ada Dzat yang selalu melihat, mendampingi, dan mengawasi setiap tindakan. Kita sering lupa, bahwa sendiri itu tidak ada, itu hanya mitos. Lalu, mengapa tercipta kata "sepi" dalam bahasa? Sendiri itu tidak untuk hati, namun hanya untuk raga. Hati bila berdiri sendiri, pasti ia akan mati, karena hati harus terpaut pada Sang Ilahi. Mari merenung sejenak.

Namun, lagi-lagi, mengapa kita pernah beranggapan bahwa kita sedang "sepi hati", padahal sebenarnya adalah raga? Mungkin, karena kita terlalu sering mengutamakan raga (akal) daripada hati.
Setiap insan pasti mempunyai cara tersendiri untuk mengobati kesendirian raga. Ada yang mencari teman, berolahraga, bernyayi, dan masih banyak lagi. Dan aku memutuskan, raga ini benar-benar kesepian, setelah kehilanganmu teman.



-Untuk teman yang selalu kurindu, Keynam (Keyboard Smanam). Aku harap, jemari ini masih ingat akan rangkaian not mu, terutama untuk Yiruma :')



Minggu, 01 Desember 2013

Puisi: Mozaik Rindu

Bila aku bertemu rindu
Mata ku berpeluh dan raga ku kaku
Ingin ku hancurkan selaksa rindu itu
Biar hidupku terus dan berlalu
Namun Rindu telah membeku
Hingga aku harus malu
Saat ia menakluk kan ku
Rindu jangan lebur aku dalam labirin hatiku dengan mu
Rindu
Biarlah Allah yang menyatukan aku
dengan mu...