Ada banyak faktor yang menyebabkan ini terjadi, salah satunya, kita sering lupa akan ada Dzat yang selalu melihat, mendampingi, dan mengawasi setiap tindakan. Kita sering lupa, bahwa sendiri itu tidak ada, itu hanya mitos. Lalu, mengapa tercipta kata "sepi" dalam bahasa? Sendiri itu tidak untuk hati, namun hanya untuk raga. Hati bila berdiri sendiri, pasti ia akan mati, karena hati harus terpaut pada Sang Ilahi. Mari merenung sejenak.
Namun, lagi-lagi, mengapa kita pernah beranggapan bahwa kita sedang "sepi hati", padahal sebenarnya adalah raga? Mungkin, karena kita terlalu sering mengutamakan raga (akal) daripada hati.
Setiap insan pasti mempunyai cara tersendiri untuk mengobati kesendirian raga. Ada yang mencari teman, berolahraga, bernyayi, dan masih banyak lagi. Dan aku memutuskan, raga ini benar-benar kesepian, setelah kehilanganmu teman.Namun, lagi-lagi, mengapa kita pernah beranggapan bahwa kita sedang "sepi hati", padahal sebenarnya adalah raga? Mungkin, karena kita terlalu sering mengutamakan raga (akal) daripada hati.
-Untuk teman yang selalu kurindu, Keynam (Keyboard Smanam). Aku harap, jemari ini masih ingat akan rangkaian not mu, terutama untuk Yiruma :')

Tidak ada komentar:
Posting Komentar