Kamis, 29 Agustus 2013

Pelangi Kusam


“Inilah takdirku dari rahim bumi,

entah berapa lama lagi,

aku terpaksa terlelap dalam kekusaman ini.”

“Masa kecil memang menyenangkan.

Selalu dalam riang dan candaan. Tidak seperti remaja sekarang,

terlalu banyak hati yang terkorbankan.”

“Walaupun terlalu kusam, aku akan tetap dalam syukur yang mendalam.

Meskipun akhirnya ditakdirkan gelap, setidaknya aku merasakan

 secerca pancaran sinar redup.”

“Bukankah yang namanya kusam, hanya konotasi kegelapan sementara?”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar