“Inilah takdirku dari rahim bumi,
entah berapa lama lagi,
aku terpaksa terlelap dalam kekusaman ini.”
“Masa kecil memang menyenangkan.
Selalu dalam riang dan candaan. Tidak seperti
remaja sekarang,
terlalu banyak hati yang terkorbankan.”
“Walaupun terlalu kusam, aku akan tetap dalam
syukur yang mendalam.
Meskipun akhirnya ditakdirkan gelap,
setidaknya aku merasakan
secerca
pancaran sinar redup.”
“Bukankah yang namanya kusam, hanya konotasi
kegelapan sementara?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar